Marshmallow! |
Nadia Fitriani. I'm just a girl who sleeps under her blanket at night. Also a girl who stands under the sun in the morning. Not great but still trying to be one. Nothing special in me, sometimes funny, sometimes doing stupid things, the calm side of me is just temporary. Watch out! |
(Source: heartpictures)
Unrealistic Scenes by Nathan Spotts
Lalu yang terjadi selanjutnya, aku menjadi takut. Diriku seperti berlubang, padahal tidak, dan seharusnya memang tidak perlu. Namun, sebelumnya memang aku telah berlubang, dan lubang itu kini semakin membesar dan menghitam. Sejujurnya aku takut untuk mengakuinya, sungguh. Aku terlihat kokoh dari luar, padahal senyatanya kerapuhanku belum surut.
Ketololan pada diriku tetap memainkan peranan utamanya ternyata. Setelah seggala yang terjadi, kelabu ini masih memenuhi ruang dalam diri. Dasar tolol! Tetap saja bukan aku yang mengendalikan diriku, tapi justru hal itu. Hal yang seharusnya kuhindari untuk terjadi lagi kesekian kali. Aku lemah terhadap ketololan ini, dan aku lelah. Tolong, demikian aku mengadu.
Semakin aku berkutat untuk mengubah kelabu ini menjadi biru, justru semakin aku tenggelam pada suatu yang semu, lalu hal itu semakin berjalan menjauh, jauh, jauh hingga tak berujung. Dan ini tak boleh terjadi terus-terusan. Kelelahan yang terlalu sering kurasakan nampaknya belum menjerakan ruang dalam diri ini. Apa yang sebaiknya diperlukan untuk membuatnya jera? Apa aku harus mengosongkan seluruh isinya? Ya, nampaknya memang harus begitu. Perlahan, tanpa melihat waktu, ruangan ini harus kupaksa kosong. Pengosongan ruang pun harus dimulai…
“Catatan di antara kesenggangan yang berada dalam dua kutub——nyata dan semu. Silakan pikirkan sendiri tentang maksud di balik tiga paragraf singkat tanpa isi ini. Saya tidak akan membatasi. Asal jangan ajukan pertanyaan tentang itu. Selamat membaca.”
(via quotesrus)
Aku akan melanjutkan apa yang ingin kuceritakan kepadamu saat itu. Dengarkan baik-baik, aku tidak ingin mengulanginya. Menceritakan ini rasanya seperti membuka kembali bekas pijakanku sendiri.
Kala itu langit senja memayungi jejak langkah kami yang tengah tenggelam bersama dalam sebuah kesemuan—yang harus semakin kabur dan memudar dan perlahan menjadi nyata. Dia yang lebih sering diam hanya menatap lama ke arah belakang kepala. Dan aku yang terkadang terdiam memandang dalam ke arah bulatan hitam dalam bola mata.
Riak yang tengah terjadi memang semakin tak menentu dan mungkin harus diredam dengan berbagai cara. Dia memilih cara ini, cara yang dia pikir paling cocok dengan nalar dalam isi kepalanya. Namun ini bukan caraku, aku tidak memainkan nalar seperti caranya. Lihat kini apa yang terjadi, bukan hilangnya riak yang dapat ia sambut, tapi justru terjangan riak yang semakin mengamuk. Lagi, dia yang memilih. Aku sudah merasa cukup, namun entah dengan dia…
“Jangan tanya maksud dari beberapa paragraf ini, saya sedang berada dalam fase random, namun ingin menulis. Jadilah paragraf random seperti ini. Sekian.”
Unrealistic Scenes by Nathan Spotts
photo by we the people.
Hidden Universes by Daniel Garcia
delicious.