Ha! |
Nadia Fitriani. Hobby: placing and arranging words. I got you. |
Momen ini hadir tiap tahunnya, mengalir lembut dan menenangkan, membawa keceriaan dan kegembiraan. Bukan karena ketupatnya, bukan karena opor ayamnya, bukan karena baju barunya, tapi cukup karena kedatangannya—yang terpenting ia ada di tengah-tengah keluarga kami, melengkapi kami kembali tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, selama 19 tahun lebih saya hidup di dunia.
Ia selalu indah setiap saat bagi kami, walaupun terkadang ada saat di mana seseorang tiba-tiba meninggalkan kami semua. Namun, ada pula yang hadir, mencoba membagi percikan kisahnya kelak dengan kami. Mereka pergi dalam ingatan kami dengan seulas senyum. Sedang mereka yang datang membawakan kembali senyum itu ke tengah-tengah kami.
Dalam momen sekali setahun ini, ada satu hal yang tak saya lalui—mudik. Tapi itu tak mengurangi apapun. Harus diakui, terkadang muncul bayang-bayang itu pula. Namun, semuanya harus disyukuri. Tanpa mudik, tanpa perlu pergi terlalu jauh, saya dapat bertemu mereka—orang-orang yang melengkapi hidup saya.
Ini bukan surat, atau bukan sekadar tulisan yang dibuat agar dapat dipublish dalam blog. Tapi terserah apabila memang diartikan demikian. Saya sudah terharu ketika menulis ini karena membayangkan momen ‘sungkeman’ besok. Betapa banyak yang perlu diperbaiki dari diri saya dan betapa banyak yang perlu memaafkan saya. Tapi tetap, saya ucapkan selamat Idul Fitri! Semoga diperkenankan berjumpa kembali tahun depan dengan semuanya—bulan ramadhan, Idul Fitri, dan sanak saudara. Amin.
*maaf apabila ini terlihat kosong, tulisan ini hanya dibuat selama 15 menit diiringi suara takbir dan petasan*
(Source: heartpictures)
Unrealistic Scenes by Nathan Spotts
Lalu yang terjadi selanjutnya, aku menjadi takut. Diriku seperti berlubang, padahal tidak, dan seharusnya memang tidak perlu. Namun, sebelumnya memang aku telah berlubang, dan lubang itu kini semakin membesar dan menghitam. Sejujurnya aku takut untuk mengakuinya, sungguh. Aku terlihat kokoh dari luar, padahal senyatanya kerapuhanku belum surut.
Ketololan pada diriku tetap memainkan peranan utamanya ternyata. Setelah seggala yang terjadi, kelabu ini masih memenuhi ruang dalam diri. Dasar tolol! Tetap saja bukan aku yang mengendalikan diriku, tapi justru hal itu. Hal yang seharusnya kuhindari untuk terjadi lagi kesekian kali. Aku lemah terhadap ketololan ini, dan aku lelah. Tolong, demikian aku mengadu.
Semakin aku berkutat untuk mengubah kelabu ini menjadi biru, justru semakin aku tenggelam pada suatu yang semu, lalu hal itu semakin berjalan menjauh, jauh, jauh hingga tak berujung. Dan ini tak boleh terjadi terus-terusan. Kelelahan yang terlalu sering kurasakan nampaknya belum menjerakan ruang dalam diri ini. Apa yang sebaiknya diperlukan untuk membuatnya jera? Apa aku harus mengosongkan seluruh isinya? Ya, nampaknya memang harus begitu. Perlahan, tanpa melihat waktu, ruangan ini harus kupaksa kosong. Pengosongan ruang pun harus dimulai…
“Catatan di antara kesenggangan yang berada dalam dua kutub——nyata dan semu. Silakan pikirkan sendiri tentang maksud di balik tiga paragraf singkat tanpa isi ini. Saya tidak akan membatasi. Asal jangan ajukan pertanyaan tentang itu. Selamat membaca.”
(via quotesrus)
Unrealistic Scenes by Nathan Spotts
photo by we the people.
Hidden Universes by Daniel Garcia
delicious.