Ha! |
Nadia Fitriani. Hobby: placing and arranging words. I got you. |
Aku akan melanjutkan apa yang ingin kuceritakan kepadamu saat itu. Dengarkan baik-baik, aku tidak ingin mengulanginya. Menceritakan ini rasanya seperti membuka kembali bekas pijakanku sendiri.
Kala itu langit senja memayungi jejak langkah kami yang tengah tenggelam bersama dalam sebuah kesemuan—yang harus semakin kabur dan memudar dan perlahan menjadi nyata. Dia yang lebih sering diam hanya menatap lama ke arah belakang kepala. Dan aku yang terkadang terdiam memandang dalam ke arah bulatan hitam dalam bola mata.
Riak yang tengah terjadi memang semakin tak menentu dan mungkin harus diredam dengan berbagai cara. Dia memilih cara ini, cara yang dia pikir paling cocok dengan nalar dalam isi kepalanya. Namun ini bukan caraku, aku tidak memainkan nalar seperti caranya. Lihat kini apa yang terjadi, bukan hilangnya riak yang dapat ia sambut, tapi justru terjangan riak yang semakin mengamuk. Lagi, dia yang memilih. Aku sudah merasa cukup, namun entah dengan dia…
“Jangan tanya maksud dari beberapa paragraf ini, saya sedang berada dalam fase random, namun ingin menulis. Jadilah paragraf random seperti ini. Sekian.”